Assalamualaikum sobat Blogger,
Kali ini kita akan mendengarkan cerita dari sobat kita nih "Vinta". yuk kita simakJ:
Seperti tahun-tahun sebelumnya untuk menyambut datangnya bulan puasa, para pelajar mendapatkan jatah libur 3 hari dari sekolah. Yang biasa disebut libur awal puasa. Esoknya, untuk mengawali puasa hari petama di desaku selalu ramai dengan anak-anak yang bersepedaria, yaa kalau istilahnya sekarang sih “gowes”. Banyak juga yang ikutan dari tetangga desa. Kayak udah mejadi tradisi anak-anak sini. Nah, libur 3 hari pun berlalu. Lanjut deh menjalani rutinitasku sebagai seorang pelajar di salah satu SMA favorit di kotaku. Hari pertama masuk sekolah berbeda dengan biasanya. Karena pada hari Senin itu semua siswa-siswi kelas XI SMAN 2 Lamongan disambut dengan acara pondok Ramadan yang bertempat di masjid Al-Arif SMADA. Acara ini sudah tidak asing lagi di kalangan kami. Karena tiap bulan Ramadan tiba, tak ketinggalan acara ini selalu ikut meramaikannya. Tapi, acara pondok Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Karena pada tahun ini acara pondok Ramadan dilaksanakan selama 1 minggu untuk tiap-tiap kelas yang dimulai dari kelas XI.
Setelah kegiatan pondok Ramadan untuk kelas XI selesai, giliran kakak kelas kami yang mendapat jadwal. Bagi kelas lain yang tidak terjadwal pondok Ramadan, tetap masuk seperti biasa dan mendapat pelajaran dengan kortingan waktu 15 menit tiap 1 jam mata pelajaran. Jadi selama bulan Ramadan waktu pulang sekolah kita berganti jam 12.00 bukan jam 13.30 lagi. Paling seneng deh kalau bulan Ramadan. Karena segala aktifitas waktunya terbatas. Masuk sekolah pun jam 07.30. Yaaa namanya juga orang puasa, jadi bawaanya males ngapa-ngapain. Bawaannya ngantuk teruuss. Hehehe
Setelah hampir 3 minggu sekolah, tibalah hari Kamis, 9 Agustus 2012. Dimana seluruh warga SMAN 2 Lamongan berkumpul di masjid Al-Arif untuk memperingati peristiwa Nuzulul Qur’an. Saking banyaknya yang ikut, sampai-sampai masjid yang segedhe itu hampir nggak muat menampung warga SMAN 2 Lamongan. Acara itu berjalan lancar, dan berlangsung dengan hikmat. Apalagi ada sedikit hiburan yang ditampilkan oleh siswa-siswi SMADA sendiri.. waaahh..! pokoknya seru banget. Satu hal penting yang harus dilakukan oleh para siswa-siswi SMADA yaitu merangkum apa yang telah disampaikan oleh penceramah. Sebagai hasil bahwa kami memperhatikan apa yang telah disampaikan beliau. Selanjutnya rangkuman itu digunakan sebagai absensi siswa-siswi yang hadir.
Tak terasa, bulan ramadhan sudah memasuki di sepuluh hari akhir, saat-saat bulan yang penuh rahmat ini berada diujung. Menjelang lebaran kita-kita semakin sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut dan menyemarakkan lebaran, dengan berbagai macam atribut. Baju baru, sandal baru, petasan, dan minuman dan makanan yang spesial seakan menjadi ritual wajib untuk menyambutnya. Pulang kampung (mudik) bagi para perantau pun sudah menjadi kegiatan tahunan.
Kkriiiiiiiiinnnnnnnngg..! bel pulang sekolah berbunyi.. Sa’atnya kami berkemas-kemas. Dengan wajah yang penuh kegirangan, semua murid langsung berhamburan keluar kelas. Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua murid, karena kami mendapat liburan yang lumayan lama untuk menyambut lebaran, yaitu 2 minggu. Untuk mengisi waktu luang, nggak banyak sih kegiatan yang aku lakukan. Paling cuma sekedar males-malesan di depan TV, hehehe. Sorenya dibuat ngabuburit dan buber dengan teman-teman cukup menarik juga. Dapat menghilangkan rasa bosan selama di rumah.
Hari demi hari pun berlalu. Tibalah malam dengan suara takbir, tahmid dan tahlil yang bergema dimana-mana. Aku pun tak ingin ketinggalan. Rugi rasanya kalau lebaran nglewatin yang namanya takbiran. Semakin malam jalanan semakin ramai dengan suara petasan dan motor-motor yang konvoi takbir keliling kota Lamongan. Tapi cukup bagiku untuk berdiam diri di depan rumah bersama teman-teman melihat petasan yang bertebaran di langit dan motor-motor yang berlalu-lalang memeriahkan suasana takbir keliling. Malam pun semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Waktunya membuat peta di pulau kapuk karena keesok’an harinya harus bangun pagi untuk sholat Ied.
Paginya, hari raya idul fitri pun tiba. Hari dimana seluruh umat muslim di dunia merayakan kemenangannya. Puncak kemerdekaan umat muslim setelah menjalani puasa selama 1 bulan. Aku pun berangkat sholat Ied dengan kedua orang tuaku dan kakak laki-lakiku. Agak kesiangan sih, tapi untungnya masih ada tempat. Sepulang sholat Ied, dilanjut dengan acara sungkem dengan ayah dan ibu. Setelah itu, para tetangga dekat sudah mulai berdatangan untuk bersilaturrahmi. Malam harinya dilanjut dengan acara silaturrahmi masih dengan tetangga sekitar yang sudah tua. Kemudian, langsung deh mudik ke rumah nenek di desa kecil di Lamongan. Nggak lama sih, hanya semalam aku dan keluargaku menginap disana. Pagi harinya kami kembali ke rumah dan berlanjut lagi dengan acara silaturrahmi ke sanak saudara yang lain. Tapi, lebaran tahun ini cukup menyedihkan juga. Karena aku nggak bisa mudik ke kota kelahiran ayahku di Malang. Hanya berkomunikasi lewat telepon saja kurang cukup bagiku.
Setelah lebaran hari ke-6, tradisi di desaku yaitu membuat ketupat untuk menutup hari raya idul Fitri tersebut. Umumnya ketupat identik sebagai hidangan spesial lebaran. Ketupat adalah sejenis makanan yang terbuat dari nasi dan dibungkus oleh daun kelapa muda atau yang sering kita sebut dengan janur. Banyak orang yang bilang kalau membuat ketupat itu susah dan bikin pusing. Tapi, kalau udah tau caranya, mudah kok. Nggak seperti apa yang orang-orang bilang. Nah kalau udah kayak gini, aku harus pindah profesi menjadi pembuat ketupat. Itu juga aku belajar dari orang lain. Karena ibuku sendiri juga nggak tau gimana cara membuat ketupat. Tentunya ketupat jelas tidak afdol jika berdiri sendiri. Beberapa lauk pauk wajib mengikutinya seperti opor ayam, rendang daging, sambal goreng hati, dan menu-menu khas lainnya.
Liburan 2 minggu itu pun berlalu. Kini saatnya aku menjalani profesiku sebagai seorang pelajar. Karena bulan puasa sudah berakhir, nggak ada lagi yang mananya diskon waktu untuk sekolah. Semua kegiatan pun kembali normal seperti sediakalah.
Related Post:





Sa’atnya = saatnya
keesok’an = keesokan
sediakalah = sediakala
cuss, lumayan ding :D
terus menulis yya, biar terbiasa utak atik kata kata