Semilir angin panas menemani raga kecil ini. Menapaki jalan dengan roda sepeda motor berwarna hitam mengkilat. Berharap sesuatu yang tak pasti pada satu tujuan tempat. Entah apa yang akan terjadi padaku nanti. Sambil menguatkan ikatan tas yang bersampir dibahu, gas pada stir sepeda motor itu ku tarik dengan sepenuh hati. Perjalananku dihadang kembali oleh lampu lalu lintas yang dari 53 detik lalu berwarna merah.
Cuaca sore yang masih terik akan panasnya sang matahari, tak menuyurutkan bulan Ramadhan ini untuk ku isi dengan hal yang cukup menguras tenaga. Dahaga dan rasa lapar menemani dikala aku tengah berjalan ke arah sebuah ruangan yang berada didalam lingkungan sekolah.
Langsung ku dobrak ruangan itu dengan ucapan salam yang lirih keluar dari mulut ini. Terlihat sosok lelaki yang sedang asik menonton film doraemon. Tanpa basa basi aku mengeluarkan sebuah buku tulis yang didalamnya terdapat sebuah soal rumit menurutku. Dan aku pikir dia bisa memecahkannya. Namun apa kalian tahu, dia malah mengajakku bermain tenis meja. Sungguh permintaan yang melelahkan. Sekitar setengah jam kami bermain tenis meja, aku teringat akan tugas yang harus dikerjakan. Untunglah ada seorang kakak kelas datang, dan dia menggantikanku bermain tenis meja.
16.00 tepat, kita benar benar berhenti bermain. Akhirnya dia mau mengajariku sebuah pelajaran yang amat abstrak bagi otak ini. Syukurlah tugas telah terselesaikan tepat pada waktunya. Saatnya aku berpetualang ke sebuah tempat guna membagi undangan. Cukup melelahkan hari itu, tapi kenangan kecil terbesit didalamnya. Menambah panjang daftar cerita asing bagi hidup singkatku kelak.
Related Post:




