Assalamualaikum sobat Blogger,
Kali ini kita akan mendengarkan cerita dari sobat kita nih "Tutus". yuk kita simakJ:
selaksa menampar-nampar, melahirkan nada
tanpa nokta, rima tanpa luka
karena mendampar kulit
bangkai sapi pada batang jati.
Saling menderu
mendengung
terbirit dengan gemerincing besi
yang berkirim salam pada gendang telingaku
yang bingung menafsiri
dinamakan khusuk atau busuk
pada ingatan yang semakin lapuk.
Lantunan musik dari laptop coklat dimeja mendampingku menikmati pesta kembang api gratis di atas atap rumah. Bersykurlah aku mempunyai rumah dengan 2 lantai, jadi pada saat momen takbiran seperti ini aku, kakak dan 2 orang sepupu tak perlu susah payah untuk membeli dan menyalakan petasan. Inilah kemenangan yang sesungguhnya. Sambil menghirup udara malam yang bebas, aku merasakan kejernihan pikiran. Alat untuk membangkitkan semangat jiwa ini adalah dengan cara yang sederhana. Mendengarkan musik, melihat kembang api dan membuat masakan favorit keluarga yaitu mie berkuah dengan taburan irisan cabe ditambah telur ceplok. Meski sangat sederhana tapi menyenangkan. Kisah klasik yang akan terus terulang kembali tiap tahunnya. Walaupun sepupuku adalah orang non muslim tapi dia juga ikut merasakan kemenangan di hari nan fitri esok.
Dan tontonan gratis malam itu ditutup oleh melejitnya kembang api dari salah satu rumah. Rumah yang telah selesai tersebut akhirnya berpenghuni, tak tanggung tanggung pemilik rumah itu menyalakan petasan hampir 20 kali. Mungkin orang yang ada di lantai bawah rumahku, mulutnya sedang berkomat kamit. Berdo’a agar petasan tersebut tidak sampai membakar rumah ini.
Akhirnya tepat pukul 22.00 WIB pesta kembang api benar-benar tlah selesai. Tak lupa, aku dan kedua sepupuku seraya berkata “Makasih ya, om. Kalau bisa tambah lagi om, merconnya.” Kita berteriak ke arah rumah tersebut sambil melambaikan tangan
Related Post:



