Sore itu suasana rumah masih agak sepi padahal sudah jam 15.30, tapi belum ada satupun anggota keluargaku yang bangun dari tidur siangnya. Kecuali seorang wanita paruh baya yang aku panggil “ibu”. Beliau tengah sibuk membuat ketupat untuk dibawa ke kantor tempat ayah bekerja hari senin besok. Mungkin sudah ada 20 lebih ketupat yang beliau buat sendirian. Sambil berjalan sempoyongan ke arah ibu, aku berniat untuk belajar membuat ketupat tapi apa daya, tangan yang lelah setelah mengetik artikel ini susah untuk ku gerakkan. Melihatnya saja aku sudah pusing membuat pikiranku makin galau.
Tiba – tiba ibu menyodorkan dua helai daun janur yang sudah dipisahkan dari lidinya. Entah apa yang diharapkan beliau pada seorang remaja SMA yang bisanya hanya makan ketupat tapi nggak mau buat. Nggak usah kaget sama anak jaman sekarang lah, udah pada tau kan. Ternyata aku disuruh buat ketupat. Lah wong, aku nggak tau menahu tentang seluk beluk pembuatan ketupat malah disuruh bantuin bikin ketupat.
Setelah beberapa menit berlalu, aku mulai mengutak atik 2 helai daun janur itu. Baru pertama kali merasakan membuat ketupat. Jari jari tangan seperti dilipat kesana kemari nggak jelas, pokoknya bikin bingung.
“Bawah atas. Atas bawah. Bawah atas.” Hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan selama jari jari tanganku menari nari diantara 2 daun janur tersebut. Sampai akhirnya, ayah duduk disampingku dan mulai mengajari cara membuat ketupat bawang. “Teknik dari membuat ketupat itu seperti teknik pembuatan tikar anyaman”, kata ayah. Jadi selain harus sabar juga harus “telaten” juga ya.
Sekitar 1 jam lebih sebuah ketupat bawang berwarna hijau telah jadi. Meski ukurannya tidak terlalu besar tapi pengorbanannya juga lumayan berat. Tanganku sampai kaku dari tadi bergelut dengan daun janur. Ketupat pertamaku tidak akan aku isi dengan beras, akan kujadikan sebagai jimat penyemangat yang bergelantungan di rak bukuku. Semakin mempercantik, padahal nggak juga. “My first ketupat”.








