XI Ipa 5

XI Ipa 5 Blog | Created By Sinichi Blogger Template

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis

Category List

Thumbnail Recent Post

Pengikut

Fivers

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

Panjenengan melbet ingdalem wilayah homepage SUWELAS IPA 5. Klik lan jelajahi isinipun ingdalem blog.e Suwelas IPA 5, lan Enjoy it!!! ...


            Sore itu suasana rumah masih agak sepi padahal sudah jam 15.30, tapi belum ada satupun anggota keluargaku yang bangun dari tidur siangnya. Kecuali seorang wanita paruh baya yang aku panggil “ibu”. Beliau tengah sibuk membuat ketupat untuk dibawa ke kantor tempat ayah bekerja hari senin besok. Mungkin sudah ada 20 lebih ketupat yang beliau buat sendirian. Sambil berjalan sempoyongan ke arah ibu, aku berniat untuk belajar membuat ketupat tapi apa daya, tangan yang lelah setelah mengetik artikel ini susah untuk ku gerakkan. Melihatnya saja aku sudah pusing membuat pikiranku makin galau.
           Tiba – tiba ibu menyodorkan dua helai daun janur yang sudah dipisahkan dari lidinya. Entah apa yang diharapkan beliau pada seorang remaja SMA yang bisanya hanya makan ketupat tapi nggak mau buat. Nggak usah kaget sama anak jaman sekarang lah, udah pada tau kan. Ternyata aku disuruh buat ketupat. Lah wong, aku nggak tau menahu tentang seluk beluk pembuatan ketupat malah disuruh bantuin bikin ketupat.
Setelah beberapa menit berlalu, aku mulai mengutak atik 2 helai daun janur itu. Baru pertama kali merasakan membuat ketupat. Jari jari tangan seperti dilipat kesana kemari nggak jelas, pokoknya bikin bingung.
            “Bawah atas. Atas bawah. Bawah atas.” Hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan selama jari jari tanganku menari nari diantara 2 daun janur tersebut. Sampai akhirnya, ayah duduk disampingku dan mulai mengajari cara membuat ketupat bawang. “Teknik dari membuat ketupat itu seperti teknik pembuatan tikar anyaman”, kata ayah. Jadi selain harus sabar juga harus “telaten” juga ya.
             Sekitar 1 jam lebih sebuah ketupat bawang berwarna hijau telah jadi. Meski ukurannya tidak terlalu besar tapi pengorbanannya juga lumayan berat. Tanganku sampai kaku dari tadi bergelut dengan daun janur. Ketupat pertamaku tidak akan aku isi dengan beras, akan kujadikan sebagai jimat penyemangat yang bergelantungan di rak bukuku. Semakin mempercantik, padahal nggak juga. “My first ketupat”.

Gambar

Sungai sungai itu menyusup ke hilir dadamu

Menampung sepi seakan perahu yang lelah

Untuk ditambatkandari segala keterdamparan

Sepanjang keterasingan.

Diam diam kuminta angin untuk berhenti

Mengalirkan musim yang beku di matamu

Meski tubuhmu kian retak oleh kemarau.

          Semilir angin panas menemani raga kecil ini. Menapaki jalan dengan roda sepeda motor berwarna hitam mengkilat. Berharap sesuatu yang tak pasti pada satu tujuan tempat. Entah apa yang akan terjadi padaku nanti. Sambil menguatkan ikatan tas yang bersampir dibahu, gas pada stir sepeda motor itu ku tarik dengan sepenuh hati. Perjalananku dihadang kembali oleh lampu lalu lintas yang dari 53 detik lalu berwarna merah.
          Cuaca sore yang masih terik akan panasnya sang matahari, tak menuyurutkan bulan Ramadhan ini untuk ku isi dengan hal yang cukup menguras tenaga. Dahaga dan rasa lapar menemani dikala aku tengah berjalan ke arah sebuah ruangan yang berada didalam lingkungan sekolah.
          Langsung ku dobrak ruangan itu dengan ucapan salam yang lirih keluar dari mulut ini. Terlihat sosok lelaki yang sedang asik menonton film doraemon. Tanpa basa basi aku mengeluarkan sebuah buku tulis yang didalamnya terdapat sebuah soal rumit menurutku. Dan aku pikir dia bisa memecahkannya. Namun apa kalian tahu, dia malah mengajakku bermain tenis meja. Sungguh permintaan yang melelahkan. Sekitar setengah jam kami bermain tenis meja, aku teringat akan tugas yang harus dikerjakan. Untunglah ada seorang kakak kelas datang, dan dia menggantikanku bermain tenis meja.
        16.00 tepat, kita benar benar berhenti bermain. Akhirnya dia mau mengajariku sebuah pelajaran yang amat abstrak bagi otak ini. Syukurlah tugas telah terselesaikan tepat pada waktunya. Saatnya aku berpetualang ke sebuah tempat guna membagi undangan. Cukup melelahkan hari itu, tapi kenangan kecil terbesit didalamnya. Menambah panjang daftar cerita asing bagi hidup singkatku kelak.


Lebaraaann….Lebaran !!! Lebaran tahun ini termasuk lebaran yang gak biasa, karena udah dua tahun ini gue gak mudik. Terkesan sepi sih, tapi gue tetep bakalan berbagi cerita bareng kalian semua.
Lebaran itu yang paling gue tunggu-tunggu ya bisa ketemu sama keluarga besar, khususnya adik sepupu gue yang unyu-unyu dan ngegemesin juga gak lupa karena selalu inget sama kakak-kakak sepupu gue yang pada cakep (maaf berlebihan). Bukannya nunggu ampau karena gue tau gue udah gede jadi terkesan keliatan udah gak pantes dikasi ampau. :D
Sisa libur lebaran sih pasti gue abisin waktu bareng temen-temen. Dan yang udah jadi hal yang diharuskan hampir tiap tahun itu ya pergi jalan-jalan bareng sahabat-sahabat kecil gue buat refreshing sekaligus melepas rasa rindu (ciyee~).
Liburan gue gitu-gitu aja kan? Gak begitu special kayak liburan kalian semua :D
Udah yaa, segini aja. Gak bisa berkata-kata lagi (terharu).  (●⌒∇⌒)


@rizkiolalaa    ^^

Gema takbir bekumandang memecah suasana malam yang tenang. Seluruh umat muslim dengan suka cita menyambut hari kemenangan. Keceriaan anak-anak dengan kembang api di tangannya menambah hangatnya suasana malam lebaran di desaku.
Panggilah aku Dedi , seorang pemuda yang dilahirkan di keluarga sederhana di desaku Maduran. Walaupun aku hidup di keluarga sederhana namun semangatku untuk mencari ilmu pengetahuan sangat tinggi, karena dengan ilmu itu aku ingin menjadi orang yang sukses sehingga aku bisa mewujudkan cita-citaku yaitu membahagiakan ibuku.
Aku adalah anak yatim, ayahku sudah meninggal ketika aku masih berumur 5 tahun. Kata ibuku, Ayah meninggal ketika bekerja di pabrik sepatu di Surabaya, karena hubungan arus pendek gedung pabrik tiba-tiba terbakar dan menewaskan 10 pegawai pabrik, salah satunya adalah Ayahku. Tragis memang, aku masih terbayang bagaimana ekspresi wajah ibuku ketika beliau menceritakan kisah yang memang tak pantas untuk diceritakan. Aku berharap kepada Allah supaya Ayahku bahagia di sana amin.
Tak seperti anak lain, setiap sepulang sekolah aku selalu membantu orang tuaku berjualan kue keliling dan dititipkan di warung-warung dan di toko-toko. Tetapi pada saat puasa seperti ini kue-kue buatan ibuku cuma terjual separuhnya saja. Namun tidak untuk puasa tahun ini ibuku sudah tidak lagi membuat kue untuk di jual. Penyakit yang menggerogoti tubuh ibuku sudah parah, ibuku tidak memberitahuku karena hanya bisa membuat beban bagiku. Sekarang aku sudah tahu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa membantu membeli obat di warung itupun obat yang hanya bisa mengurangi rasa sakit saja.
Dua bulan sudah ibuku tekulai lemas di ranjangnya . Meskipun bukan ranjang yang mewah, rasa syukur tetap tercurah. Ibuku selalu berpesan kepadaku untuk selalu bersyukur setiap anugerah yang di berikan Allah kepadaku, sekecil apapun itu.
Bulan puasa ini memang terlihat sangat berbeda, tak ada lagi kue, tak ada lagi lembutnya suara ibu. Yang terlihat hanya rintihan sakit yang amat dalam yang dirasakan oleh seorang ibu. Ya Allah rasanya aku nggak kuat lagi, rasanya aku ingin menghilangkan penyakit yang menempel di ibu, kalau mendengar suara rintihan itu aku selalu berpikir tidak aku saja yang sakit ya Allah, jangan ibuku.
Dalam sunyinya malam di bulan puasa ini aku selalu berdoa ya Allah kuatkanlah ibuku, berikan beliau kesehatan agar bisa beraktivitas seperti biasa. Ya Allah rindu memang melihat senyuman manis yang selalu tersungging di bibirnya, senyuman ketulusan seorang yang sangat mulia di hidupku. Oh ibu betapa aku menyayangimu, cepat sembuh ibu aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Aku ingin melihat senyummu lagi besok kelak kalau aku sudah menjadi orang yang sukses, menjadi seorang anak yang ibu banggakan. Namun semua itu hanya sebagai isapan jempol yang hanya menghiasi mimpi-mimpi.
Tepat pukul 18.13 Allah telah mengambil ibuku. Di malam lebaran ini terlihat sungguh berbeda, tidak seperti malam lebaran di tahun kemarin. Di malam ini terdengar suara isak tangis para tetangga yang menyesakkan dada. Begitupun dengan aku yang tak mampu lagi membendung perasaan yang amat dalam. Desakan tangis memang mengurangi kegundahan hatiku saat itu, aku sungguh kehilangan sosok seorang ibu yang amat sangat aku sayangi. Sosok seorang ibu yang tulus kasih memberiku penghidupan. Kini sudah tinggal sebuah nama yang aku ukir jauh di dalam relung hatiku. Aku hanya berdoa kepada Allah agar ibuku diberikan tempat yang layak, tempat yang indah disisi-Nya amiin.

Selamat Datang Di Suwelas Ipa 5 BLOG

Selamat datang di Blog kami, semoga saja kalian bisa mendapatkan apa yang kalian butuhkan diblog kami ini. Terima kasih Telah Berkunjung Di Blog kami,apabila berkenan silahkan berkomentar dan follow blog ini,mari kita saling berbagi ilmu tentang apa saja...

Sekilas tentang penulis

Nama saya Moh. Rifqi Hidayatullah,saya seorang Siswa kelas XI IPA 5 di SMA Negeri 2 Lamongan. saya hanyalah seorang yang ingin menjadi lebih baik, karena Dzat yang paling baik dan sempurna hanyalah milik Allah SWT

Nama Happy Nawang Kuncoro,saya seorang Siswa kelas XI IPA 5 di SMA Negeri 2 Lamongan. Gunakan waktu anda sebaik"nya, karena orang yang merugi ialah orang yang tidak menggunakan waktu dengan baik

Suwelas Ipa 5